Sistem reproduksi pria
terdiri hipotalamus, hipofisis anteroir, dan testis. Alkohol yang masuk kedalam
tubuh akan diubah oleh enzim alkohol dehidrogenase (ADH) menjadi asetaldehid.
Senyawa asetaldehid dapat mengganggu fungsi dari masing-masing organ reproduksi
sehingga dapat menyebabkan impotensi, infertilitas dan mengurangi karakteristik
seksual sekunder.
Dalam testis asetaldehid dapat
mempengaruhi sel-sel leydig yang memproduksi hormon testosteron. Konsumsi
alkohol dalam jumlah yang banyak maka metabolismenya dalam tubuh dapat
menyebabkan kekurangan testosteron. Asetaldehid juga dapat
mengganggu fungsi sel sertoli yang berperan dalam pematangan sel sperma, serta
dapat menyebabkan penurunan aktivitas enzim yang berperan dalam sintesis hormon
kelamin jantan.
Asetaldehid dapat menyebabkan
kegagalan hipotalamus dan hipofisis untuk mensekresikan GnRH, FSH dan LH yang
akan berpengaruh terhadap sel leydig untuk mensintesis testosteron dan sel
sertoli yang berperan dalam pematangan sperma.
Alkohol
yang dikonsumsi 90% diantaranya akan dimetabolisme oleh tubuh terutama pada
hati oleh enzim alkohol dehidrogenase (ADH) dan koenzim
nikotinamid-adenin-dinokleotida (NAD) menjadi asetaldehid. Asetaldehid kemudian
oleh enzim aldehide dehidrogenase (ALDH) akan diubah menjadi asetat dalam
mitokondria.
Asetaldehid
akan merangsang aktivitas enzim sitokrom P450s yang mengakibtkan produksi ROS,
selain itu juga dapat mengubah
tingkat logam tertentu dalam tubuh sehingga dapat memudahkan produksi ROS.
Alkohol pada level tertentu dapat mengurangi antioksidan yang berperan dalam
menghambat pembentukan ROS. Produksi ROS dan stres oksidatif pada sel liver
berperan dalam perkembangan penyakit alkoholik hati.
Stres
oksidatif disebabkan karena tingginya kadar asam lemak tak jenuh dan adanya
sistem yang berpotensi menghasilkan ROS. Pembentukan ROS dapat terjadi pada
mitokondria dan berbagai enzim termasuk xantin, NADPH oksidase dan sitokrom
P450s. Enzim tersebut merupakan enzim utama dalam pembentukan ROS atau
metabolit toksik sebagai konsekuensi aktivitas biokimia yang tidak
menguntungkan.
Bentuk
abnormal spermatozoa juga disebabkan karena produksi ROS. Produksi ROS melalui
dua jalur yaitu; (1). Sistem oksidasi NADPH pada tingkat membran plasma
spermatozoa. (2). NADPH dependent oxyda-reductase pada tingkat mitokondria.
Sistem
mitokondria merupakan penghasil utama ROS spermatozoa pada pria infertil.
Mengatahui aktivitas radikal bebas secara tidak langsung dengan melihat produk
dari hasil reaksi radikal bebas dengan cara pengukuran kadar malondialdehyde (MDA).
MDA diukur secara kuantitatif dengan metode thiobarbituric
acid reactive substance (TBaARS).
Senyawa
ROS yang paling berperan dalam sistem reproduksi adalah superoksida (O2-),
hidrogen peroksida (H2O2), peroksil (ROO-), hidroksil
(OH-) dan derivat nitrogen oksida seperti (NO-), peroksinitat (ONOO-).
Timbulnya stres oksidatif sebagai konsekuensi peningkatan ROS yang berlebihan
akan menyebabkan abnormalitas spermatozoa.
Testis
dibekali dengan enzim antioksidan yang terdiri dari komponen enzimatik untuk
mengimbangi proses tebentuknya stres oksidatif. Komponen enzimatik dari sistem
pertahanan ini pada testis akan mempercepat respon yang ditandai dengan induksi
spesies mRNA yang dimediasi oleh aktivitas superoxida dismutase (SOD),
glutathion peroxidase (GPx) dan
glutatione-S-transferase (GST).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar