Selasa, 07 Agustus 2012

PENGARUH ALKOHOL PADA REPRODUKSI PRIA


            Sistem reproduksi pria terdiri hipotalamus, hipofisis anteroir, dan testis. Alkohol yang masuk kedalam tubuh akan diubah oleh enzim alkohol dehidrogenase (ADH) menjadi asetaldehid. Senyawa asetaldehid dapat mengganggu fungsi dari masing-masing organ reproduksi sehingga dapat menyebabkan impotensi, infertilitas dan mengurangi karakteristik seksual sekunder.
            Dalam testis asetaldehid dapat mempengaruhi sel-sel leydig yang memproduksi hormon testosteron. Konsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak maka metabolismenya dalam tubuh dapat menyebabkan kekurangan testosteron. Asetaldehid juga dapat mengganggu fungsi sel sertoli yang berperan dalam pematangan sel sperma, serta dapat menyebabkan penurunan aktivitas enzim yang berperan dalam sintesis hormon kelamin jantan.
            Asetaldehid dapat menyebabkan kegagalan hipotalamus dan hipofisis untuk mensekresikan GnRH, FSH dan LH yang akan berpengaruh terhadap sel leydig untuk mensintesis testosteron dan sel sertoli yang berperan dalam pematangan sperma.
Alkohol yang dikonsumsi 90% diantaranya akan dimetabolisme oleh tubuh terutama pada hati oleh enzim alkohol dehidrogenase (ADH) dan koenzim nikotinamid-adenin-dinokleotida (NAD) menjadi asetaldehid. Asetaldehid kemudian oleh enzim aldehide dehidrogenase (ALDH) akan diubah menjadi asetat dalam mitokondria.
Asetaldehid akan merangsang aktivitas enzim sitokrom P450s yang mengakibtkan produksi ROS,  selain itu juga dapat mengubah tingkat logam tertentu dalam tubuh sehingga dapat memudahkan produksi ROS. Alkohol pada level tertentu dapat mengurangi antioksidan yang berperan dalam menghambat pembentukan ROS. Produksi ROS dan stres oksidatif pada sel liver berperan dalam perkembangan penyakit alkoholik hati.
Stres oksidatif disebabkan karena tingginya kadar asam lemak tak jenuh dan adanya sistem yang berpotensi menghasilkan ROS. Pembentukan ROS dapat terjadi pada mitokondria dan berbagai enzim termasuk xantin, NADPH oksidase dan sitokrom P450s. Enzim tersebut merupakan enzim utama dalam pembentukan ROS atau metabolit toksik sebagai konsekuensi aktivitas biokimia yang tidak menguntungkan.
Bentuk abnormal spermatozoa juga disebabkan karena produksi ROS. Produksi ROS melalui dua jalur yaitu; (1). Sistem oksidasi NADPH pada tingkat membran plasma spermatozoa. (2). NADPH dependent oxyda-reductase pada tingkat mitokondria.
Sistem mitokondria merupakan penghasil utama ROS spermatozoa pada pria infertil. Mengatahui aktivitas radikal bebas secara tidak langsung dengan melihat produk dari hasil reaksi radikal bebas dengan cara pengukuran kadar malondialdehyde (MDA). MDA diukur secara kuantitatif dengan metode thiobarbituric acid reactive substance (TBaARS).
Senyawa ROS yang paling berperan dalam sistem reproduksi adalah superoksida (O2-), hidrogen peroksida (H2O2), peroksil (ROO-), hidroksil (OH-) dan derivat nitrogen oksida seperti (NO-), peroksinitat (ONOO-). Timbulnya stres oksidatif sebagai konsekuensi peningkatan ROS yang berlebihan akan menyebabkan abnormalitas spermatozoa.
Testis dibekali dengan enzim antioksidan yang terdiri dari komponen enzimatik untuk mengimbangi proses tebentuknya stres oksidatif. Komponen enzimatik dari sistem pertahanan ini pada testis akan mempercepat respon yang ditandai dengan induksi spesies mRNA yang dimediasi oleh aktivitas superoxida dismutase (SOD), glutathion peroxidase  (GPx) dan glutatione-S-transferase (GST).

Tidak ada komentar: