Pertumbuhan penduduk yang pesat dan budaya buruk pemerintahanpusat maupun daerah sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhanakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat menjadikan negara ini semakin terpuruk.Kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin-pemimpin bangsa dinegeri ini sangatmemprihatinkan. Perilaku pemimpin-pemimpin kita yang selalu berkuasa denganharta kekayaan yang mampu membeli rakyatnya demi kepentingan menuju karir suatukepemimpinan menjadi budaya yang tidak tau sampai kapan akan berakhir.
Sistem pelayanan publik yang berprinsip berprilaku kalau
bisa dipersulit kenapa harus dipermudah, kalau bisa diperas kenapa harus gratis
terus meregenerasi dari waktu kewaktu tanpa ada satu orangpun yang sanggup
merubah perilaku ini. Presiden Indonesia telah berganti ganti dan para menteri
telah bergonta-ganti tetapi tidak sanggup merubah prilaku tersebut. Budaya yang
membumi yang tidak mau diakui secara sah oleh negara karena negara malu dengan
statement demokrasi kenegaraan. Maklumlah para pemimpin dan rakyat dinegara
kita sangat menjunjung budaya malu yang memalukan.
Dari semua aspek pemerintahan baik itu pendidikan
pemimpin-pemimpinnya masih memberlakukan budaya demokrasi yang telah berakar
dari jaman penjajah……..berkerja sedikit dan mengharapkan upah yang
banyak……kepunyaan orang lain mau…….dan kepunyaannya disimpan…….memaksa rakyatnya untuk bekerja tanpa dihargai
upah…….mau rakyatnya yang terbaik
padahal tidak ada kontribusi buat rakyatnya…..kapan bangsa ini mempunyai
sosok yang mungkin mencotoh gubernur DKI Joko Wi….
Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dipersulit dengan peraturan
dan kesulitan-kesulitan yang masyarakatnya tidak tahu menjadi sumber rezeki
pendapatan tambahan bagi para oknum. Kesalahan sengaja diciptakan dan selalu
dicari-cari oleh oknum petugas agar memperoleh celah untuk mendapatkan rezeki
penghasilan tambahan berupa suap maupun pungli. Masyarakat yang mengalami
kesulitan bukannya dibantu tapi malah dipersulit. Dan sangat mungkin perilaku
hina ini yang suka mempersulit dan memeras dipelihara dan dikembangkan secara
sistematis sesubur-suburnya oleh para atasan termasuk kepala kelurahan dan
camat maupun penjabat pada tingkat perguruan tinggi.
Pelayanan Publik hingga saat ini masih sangat jauh
dari etika pelayanan publik yang berorientasi pengabdian kepada masyarakat yg
tulus, jujur, ikhlas yang bebas dari pungli, bebas dari mempersulit maupun
memeras masyarakat.
Entah kapan perilaku-perilaku hina dari oknum-oknum
birokrat ini bisa diperbaiki dan dibasmi hingga keakar-akarnya. Dan entah siapa
yang bisa memperbaiki perilaku buruk ini.
Instansi kepolisian yang seharusnya bertugas untuk
melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat malah cenderung memeras
masyarakat. Ulah dari oknum-oknum polisi yang sengaja melakukan sweeping
/tilang yang selalu mencari-cari kesalahan sekecil-kecilnya dari pengguna jalan
yang ujung-ujungnya duit untuk penghasilan tambahan atau memeras masyarakat
pengguna jalan. Sementara tiap bulan oknum polisi ini menerima gaji yang lebih
tinggi dibandingkan dengan PNS yang memiliki pangkat dan golongan yang lebih
tinggi dari oknum polisi dan gaji ini berasal dari uang rakyat pula.
Rekruitment PNS dan POLRI yang tidak sesuai kompetensi
kemampuan profesional dan itikad yang baik untuk pengabdian kepada masyarakat
dan negara, hanya berdasarkan siapa menyogok siapa, siapa anak siapa dan belas
kasihan merupakan salah satu faktor utama penyebab kebobrokan birokrasi di
Negara ini.
Demikian pula dengan direkrutnya para pegawai
honorer maupun pegawai kontrak. Rekruitment yang hanya dilandasi rasa dan
hubungan kekeluargaan maupun rasa kasihan karena siorang ini menganggur dan
memiliki tanggungan keluarga tanpa sedikitpun memperhatikan potensi profesional
moral baik untuk menjaga citra institusi dan quota kebutuhan sesungguhnya dari
instansi pemerintah dan juga tanpa melakukan seleksi yang ketat sesuai dengan
kompetensi profesional dan itikad pelayan yang jujur dan bermoral yang baik
menambah makin buruknya citra aparat pelayan publik dimata masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar